AwanPintar Sebut Ada Ratusan Serangan CVE Di Awal 2025

Dunia digital kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian masyarakat Indonesia. Namun, seiring dengan meningkatnya ketergantungan terhadap teknologi, risiko ancaman siber pun semakin nyata. Laporan terbaru dari AwanPintar.id®, platform intelijen ancaman siber nasional, mengungkap dinamika keamanan digital Indonesia selama paruh pertama tahun 2025.

Lonjakan Eksploitasi CVE: Celah Keamanan yang Terus Dimanfaatkan

Salah satu sorotan utama laporan ini adalah meningkatnya eksploitasi Common Vulnerabilities and Exposures (CVE) atau celah keamanan digital. CVE digambarkan sebagai “pintu belakang” dalam sistem perangkat lunak maupun perangkat keras. Jika tidak segera diperbaiki, celah ini dapat dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk menyebarkan malware, mencuri data, atau melakukan sabotase digital.

Read More

AwanPintar.id mencatat bahwa eksploitasi tidak hanya berasal dari celah baru, tetapi juga dari celah lama yang belum ditambal. Hal ini menjadi pengingat bagi organisasi untuk secara rutin melakukan pemindaian (scanning) dan perbaikan (patching) terhadap sistem mereka agar tetap aman dari serangan.

Kebangkitan Botnet Mirai: Ancaman Serius bagi Perangkat IoT

Botnet Mirai, yang pernah menggemparkan dunia pada tahun 2016, kini muncul kembali dalam versi yang lebih canggih. Botnet ini menargetkan perangkat Internet of Things (IoT) yang rentan, seperti kamera IP, DVR, dan router, untuk dijadikan bagian dari jaringan bot yang dapat digunakan dalam serangan Distributed Denial-of-Service (DDoS) berskala besar.

Peningkatan penggunaan perangkat pintar di rumah dan lingkungan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan suburnya penyebaran Mirai di Indonesia. Minimnya keamanan pada perangkat-perangkat IoT membuatnya menjadi sasaran empuk bagi botnet ini.

133 Juta Serangan Siber dalam Enam Bulan

Selama enam bulan pertama tahun 2025, tercatat sebanyak 133 juta serangan siber terhadap jaringan digital di Indonesia, dengan rata-rata sembilan serangan setiap detik. Meskipun angka ini menunjukkan penurunan sebesar 94,66% dibandingkan tahun sebelumnya, terjadi peningkatan signifikan dalam jenis serangan tertentu—terutama yang berkaitan dengan manipulasi protokol jaringan.

Hal ini menunjukkan bahwa pelaku serangan siber kini semakin kreatif dalam mencari celah keamanan dan metode penyusupan yang lebih kompleks.

Indonesia sebagai Sumber Serangan ke Dalam Negeri

Fakta menarik lainnya adalah bahwa Indonesia menjadi sumber kedua terbesar serangan siber terhadap wilayahnya sendiri, dengan kontribusi sebesar 9,19%. Dari sisi wilayah, daerah Kerinci menempati posisi teratas sebagai sumber serangan domestik, diikuti oleh Jakarta, Klaten, Bandung, dan Semarang.

Data ini menegaskan bahwa ancaman siber tidak hanya terpusat di kota-kota besar, melainkan tersebar merata di berbagai daerah. Oleh karena itu, kesiapan infrastruktur keamanan siber harus dilakukan secara merata di seluruh wilayah Indonesia.

Tren Positif: Penurunan Spam dan Malware

Di tengah banyaknya ancaman yang muncul, laporan ini juga mencatat tren positif. Terdapat penurunan spam dan malware pada akhir semester pertama tahun 2025. Meskipun pada awal tahun jumlahnya cukup tinggi, penurunan ini diduga merupakan hasil dari kampanye pengendalian yang masif. Selain itu, pelaku kejahatan siber juga mulai mengalihkan strategi mereka ke celah keamanan yang lebih baru dan efektif.

Pentingnya Perlindungan Berlapis dan Kolaborasi

Dalam menghadapi ancaman yang terus berkembang, AwanPintar.id menekankan pentingnya penerapan perlindungan berlapis serta kolaborasi lintas sektor. Pendekatan ini dinilai menjadi kunci utama dalam mencegah dan meminimalkan dampak dari serangan siber yang semakin kompleks dan beragam.

Keamanan digital bukan hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan memerlukan partisipasi aktif dari individu, organisasi, hingga pemerintah dalam membangun ekosistem siber yang aman dan tangguh.

Baca Juga: Infomedia ajak Microsoft perkuat ekosistem contact center AI

Related posts