Generasi Z hidup di era digital yang serba cepat, sehingga kebiasaan berkomunikasi mereka banyak berubah dibanding generasi sebelumnya. Kini, mereka lebih nyaman menggunakan pesan teks dibandingkan telepon, karena tulisan dianggap memberi ruang aman dalam mengekspresikan diri.
Banyak faktor memengaruhi fenomena ini, mulai dari efisiensi waktu, rasa nyaman, hingga menghindari kecanggungan ketika berbicara langsung. Menurut laporan CNA Today, texting memberi kesempatan berpikir sebelum membalas, sehingga setiap kata dapat disusun lebih hati-hati.
Mereka juga dapat memilih emoji yang tepat, menambahkan nuansa emosional, dan menyampaikan pesan dengan cara terasa aman. Berbeda dengan panggilan telepon yang menuntut respons cepat, teks menawarkan kontrol penuh serta bisa disimpan atau dibaca ulang.
Selain itu, fleksibilitas menjadi alasan utama, karena pesan dapat dibalas kapan saja, bahkan saat sedang berada di keramaian. Tidak perlu memikirkan ekspresi wajah atau intonasi suara, cukup mengetikkan kalimat singkat sudah dianggap cukup memadai.
Dalam situasi sosial tertentu, texting membantu mengurangi rasa canggung serta mencegah percakapan panjang yang tidak diinginkan. Bahkan dalam lingkungan kerja, generasi ini lebih sering memilih teks karena dinilai formal, tertata, dan minim salah paham.
Sementara itu, generasi lebih tua masih menganggap telepon lebih hangat dan personal, meski perlahan mulai menyesuaikan. Perbedaan gaya komunikasi ini menunjukkan adanya pergeseran budaya, terutama pada generasi muda yang tumbuh bersama internet.
Bagi mereka, komunikasi bukan hanya soal mendengar suara, melainkan menemukan cara paling nyaman agar tetap terhubung. Texting akhirnya menjadi pilihan utama, karena menawarkan kendali penuh, fleksibilitas tinggi, serta memberi kenyamanan emosional lebih besar.
Fenomena ini membuktikan bahwa perkembangan teknologi turut membentuk perilaku komunikasi, khususnya generasi Z yang semakin bergantung teks.
Baca Juga : Benarkah Eject USB Itu Penting? Ini Jawabannya