Jakarta (ANTARA) – Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memastikan teknologi budidaya lobster Indonesia kini menunjukkan hasil positif sehingga mampu bersaing dengan Vietnam.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Tb Haeru Rahayu (Tebe) menegaskan tingkat kelangsungan hidup lobster pada keramba jaring apung sudah mencapai lebih dari 70 persen, menandakan teknologi budidaya lobster dalam negeri semakin berkembang dan dikuasai nelayan.
28 Agustus 2025 22:40 WIB
“Alhamdulillah dalam delapan bulan kami sudah bisa membuktikan kepada publik paling tidak bahwa teknologi budidaya lobster kita sudah mulai tidak kalah dengan Vietnam,” kata Tebe dalam Outlook Tilapia 2025 di Jakarta, Kamis.
Selain penguasaan teknologi, Tebe mengungkapkan pasar lobster internasional sangat menjanjikan, sehingga budidaya lobster menjadi peluang besar untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan sekaligus memperkuat daya saing sektor perikanan Indonesia.
Baca Juga : Berita Teknologi
“Tingkat survival rate-nya di KJA (keramba jaring apung) itu sudah cukup bagus, sudah di atas 70 persen saya lihat. Kemudian selain sudah dikuasai, juga marketnya sangat luar biasa,” ujarnya.Namun, lanjut Tebe, KKP sementara menghentikan budidaya lobster di luar negeri yakni Vietnam karena hasil evaluasi belum sesuai harapan, sehingga fokus diarahkan pada penguatan budidaya lobster di wilayah Indonesia.
“Saat ini pemerintah menghentikan sementara budidaya lobster di luar wilayah Indonesia. Kenapa? Kami melakukan evaluasi dan ternyata hasil evaluasinya belum sesuai dengan apa yang sudah kita harapkan,” jelasnya.
Tebe menambahkan ke depan lobster tidak lagi menjadi persoalan besar, sebab teknologi domestikasi dan pembudidayaan semakin terkuasai dengan baik oleh nelayan dan pembudidaya dalam negeri.
Ia bahkan menyampaikan kabar gembira bahwa nelayan di Tanjung Lesung sudah berhasil memijahkan lobster secara alami, mulai dari telur menetas hingga berkembang menjadi benih bening lobster.
Meski jumlah benih yang dihasilkan belum banyak, Tebe menilai capaian tersebut merupakan langkah positif dan pihaknya terus melakukan pendampingan serta pemantauan langsung terhadap aktivitas nelayan di lokasi tersebut.
Berita Terkait : Modeling lobster hidupkan budidaya kerang di Batam
Tebe optimistis budidaya lobster Indonesia akan mengikuti jejak keberhasilan udang windu, paname, kakap, kerapu, hingga bandeng, yang sebelumnya sulit namun akhirnya berhasil didomestikasi dan dikembangkan secara berkelanjutan.
“Kami sudah tiga kali datang ke sana (Tanjung Lesung). Mungkin dalam waktu dekat kita akan coba tengok lagi dan kita ajak diskusi. Supaya kalau ini terjadi, maka persoalan lobster yang saat ini mungkin menjadi isu yang sangat seksi, tidak akan ada lagi,” kata Tebe.